Mendidik Anak Dari Meja Makan
Suatu hari ketika akan bersantap malam, saya bertanya kepada keponakan saya yang masih berusia 9 tahun : apakah dia hafal doa sebelum makan menurut tata cara Islam?
Keponakan saya yang cantik itu menjawab : iya. Tentu saja dia bisa, sebagaimana sebagian besar anak-anak Mukmin yang telah mengenyam pendidikan Islam dari para guru ngaji mereka.
“ Allahumma baariklanaa fiima razaqtanaa wa qiinaa ‘adzabannaarr .. “, keponakan saya itu berdoa dengan pelan tapi lancar.
“ Adik tau artinya apa? “
Keponakan saya menggelengkan kepalanya.
Saya menghela nafas panjang. Inilah .. untuk kesekian kalinya saya menjumpai bagaimana sejak kecil anak-anak kita hanya dididik untuk memperlakukan doa sebagaimana mantra-mantra yang harus dihafal (bahkan tidak boleh salah pengucapan sedikit pun, karena doanya tidak akan ‘mandi’!) tanpa diajarkan untuk memahami arti dan maknanya, apalagi filosofinya.
“ Ya Allah .. Berkahilah apa yang telah Engkau rizkikan kepada kami, dan jauhkanlah kami dari siksa api neraka, “ Saya mengajarkan kepada keponakan saya itu arti dari doa tersebut.
“ Oya dik .. Kira-kira kenapa sih kita harus berdoa? “
Keponakan saya terdiam sebentar. “ Mmm ... biar makannya gak ditemenin setan! “
(GUBRAK!!)
“ Siapa yang ngajarin itu dik? “
“ Guru ngajiku .. “
“ Terus, kalau seandainya setan itu tidak diciptakan di dunia ini, berarti kita gak perlu berdoa sama Allah ya dik? “
Keponakan saya bingung mencari jawaban atas pertanyaan saya itu.
Sekali lagi jawaban seperti ini mengundang keprihatinan saya. Salah satu kesalahan yang sering dilakukan oleh para pendidik, baik orang tua dan guru, adalah tidak mendidik anak untuk berpikir. Sehingga alasan yang sering diberikan adalah alasan-alasan instan yang seringkali mengandung ancaman, seperti : “ kalau gak tidur nanti digondol wewe lho .. kalau gak shalat nanti malaikat marah dan dosamu dicatat lho .. kalau gak nurut berarti kamu nantang orang tua .. dsb”.
Mungkin sebagian dari kita merasa bahwa anak-anak belum bisa diajak berpikir secara mendalam, apalagi dengan alasan-alasan yang berbau ancaman dan menakut-nakuti itu lebih efektif dalam menanamkan doktrin kepada anak-anak.
Tapi saya berpendapat sebaliknya. Justru mulai dari usia dinilah, anak-anak sudah mulai harus dididik untuk berpikir, tentu saja disesuaikan dengan perkembangan mentalnya. Berikanlah alasan-alasan yang rasional dan jelaskan dampak-dampak dari apa yang diperbuat oleh mereka, sehingga secara alam bawah sadar akan terus tertanam dalam pikiran mereka.
Masyarakat Barat misalnya, mendidik anak-anaknya untuk senantiasa berpikir kritis dan tidak segan bertanya. Anjuran dan larangan selalu disertai dengan alasan-alasan yang logis. Hukuman pun diterapkan secara fair sesuai apa yang telah diperbuat si anak. Kita bisa bandingkan, mungkin seperti contoh-contoh di film, bahwa gaya berbicara, cara berpikir, dan tingkat kedewasaan anak-anak negeri kita secara umum masih berada di bawah anak-anak Barat. Maka dampaknya akan terbawa hingga usia dewasa. Sebagaimana bisa kita saksikan sendiri bahwa secara umum masyarakat Barat lebih bisa menerapkan nilai-nilai Islami dengan kepekaan, kepedulian, empati, dan kesadaran yang lebih baik ketimbang masyarakat negeri kita yang mengaku sebagai umat yang ‘setia’ pada syariat Islam, namun pada kenyataannya seringkali jauh dari nilai-nilai Islam.
Kembali ke persoalan doa sebelum makan. Ada beberapa tips yang ingin saya bagi kepada para sahabat di sini, tentang bagaimana membangun akhlak dan mentalitas anak-anak kita dari meja makan :
1. Ajarkan kepada mereka bahwa berdoa sebelum makan itu bertujuan untuk BERSYUKUR terhadap nikmat dan rizki yang telah diberikan Allah kepada kita. Seorang anak yang sejak kecil diajarkan untuk selalu bersyukur, maka insya Allah kelak ia akan tumbuh sebagai pribadi yang pandai bersyukur dan jauh dari perilaku materialistik bahkan hedonistik. Ia akan memandang Allah Sang Maha Pemurah dengan penuh CINTA, sehingga otomatis ia akan meneruskan rasa cinta itu dengan menebar semangat dan pesan-pesan cinta kepada lingkungan di sekitarnya.
2. Ajarkan kepada mereka bahwa salah satu cara terbaik untuk bersyukur atas karunianya adalah dengan menghabiskan makanan tersebut. Di sini mereka akan dididik untuk tidak bersikap boros, karena mereka akan terbiasa untuk menakar makanan dan minumannya sendiri sesuai kapasitas perutnya.
3. Ajarkan kepada mereka bahwa rasa syukur kepada Allah kita perbesar lagi dengan berbagi kepada sesama. Jika makanan tidak habis, maka ajari mereka untuk menyisihkan makanan tersebut kepada siapa saja yang masih kelaparan di luar sana. Di sini mereka akan dididik untuk memiliki kepedulian sosial.
4. Ajarkan kepada mereka tentang filosofi doa sebelum makan tersebut, yaitu pada kata : “ BERKAHILAH RIZKI yang telah Engkau berikan kepada kami. “ Perhatikan kata ‘rizki yang berkah’. Bahwa apa yang kita makan itu harus (sebisa mungkin) kita pastikan berasal dari rezeki yang halal. Dengan demikian makanan itu tentu saja tidak boleh berasal dari curian atau dibeli dengan uang yang tidak halal. Bagaimana mungkin kita akan menikmati makanan kita jika dibeli dengan uang hasil korupsi, menipu, atau dari uang berbunga yang kita bebankan pada orang-orang yang membutuhkan pertolongan? Di sinilah maka doa itu diakhiri dengan kata, “ .. jauhkanlah kami dari siksa api neraka “, sebagai konsekuensi dari makan makanan yang tidak halal.
Ajaran Islam berikut tata cara dan doa-doanya akan terasa indah dan mengena jika sedari usia dini, kita tanamkan kepada anak-anak kita untuk mengerti hakikat yang tersembunyi di baliknya dan menerapkannya kepada kehidupan sehari-hari. Sehingga kelak anak-anak kita akan menjadi generasi Islami, yang benar-benar ‘beragama Islam’ bukan sekedar ‘berilmu agama Islam’.
Mari kita membangun mental, akhlak, dan kepribadian anak-anak kita sehingga kelak mereka akan menjadi generasi mulia yang akan membangun kehidupan yang jauh lebih baik di bumi tercinta ini. Mendidik anak adalah kewajiban semua orang yang ada di sekitar anak-anak tersebut. Keluarga adalah ‘madrasah’ yang paling utama bagi perkembangan mental dan akhlak anak-anak itu.
Dan kita bisa memulainya dari hal-hal yang kecil .. Sebagaimana mendidik anak dari meja makan ..
Allahu’alam ..

Post a Comment for "Mendidik Anak Dari Meja Makan"